Bersama dengan sacho (baca:presdir) baru sudah aku jalani hampir 2 bulan ini. Beberapa hal memang terlihat beda sekali dengan sacho yang lama. Alhamdulillah baik sacho yang lama maupun sacho yang baru ini, dua2nya baik, nggak galak sebagaimana bos2 beberapa kenalan yang juga bekerja di pabrik Jepang.
Sacho yang lama orangnya kalem, walaupun murah senyum (kecuali kalau lagi banyak problem) tapi orangnya cenderung serius. Mengenai kebijakannya, aku nggak terlalu mengerti karena baru mengenalnya 8 bulan lalu dia pensiun balik ke Jepang, ditambah lagi dia jarang memanggilku untuk terjemah rapat2 sehingga kondisi pabrik secara tekhnis pun aku kurang paham. Tapi yang pasti shacho lama-ku ini orangnya baik soalnya dia udah ngasih angpao dgn angka yang cukup besar buat pernikahanku (hahaha, jd gitu tolak ukurnya??!).
Nah, kalo sacho yang baru ini orangnya serius tapi humoris, tipe2nya mirip Sugawara san (atasan di pabrik otomotif yang dulu). Seneng kalo liat dia ketawa, renyah suaranya (kripik kalee). Di Jepang dulu dia aktif di serikat, jadi sepertinya dia paham bagaimana berkomunikasi yang adem dgn mereka, dan tahu bagaimana cara ngambil hati karyawan, terbukti beberapa hari yg lalu dia membuat gebrakan, pertama kalinya dalam sejarah gw menerjemahkan perundingan perusahaan ma serikat, sacho berhasil membuat serikat silence, ya iyalah.. permintaan kenaikan upahnya diturutin, apalagi dengan angka yang ternyata lebih besar dr ekspektasi mereka. Baguslah, aku jadi nggak perlu ikut2an keluar otot menerjemahkan perdebatan mereka.
Sepertinya memang gaya pendekatan sacho yang ini berbeda dgn sacho terdahulu. Sacho yang ini kayaknya mencoba strategi memberi tuntutan karyawan, supaya karyawan juga memenuhi tuntutan perusahaan untuk bekerja lebih giat dan mematuhi rule. Kita lihat saja nanti, apakah para karyawan dan serikat bisa bekerja sama dengan baik atau tidak.. hmm 結果を楽しみに。
Trs juga dibanding dengan sacho yang lama yang terlihat sederhana, sacho yang ini agak necis, senang pakai dasi ke pabrik (nanti di pabrik ganti baju pabrik), sepatunya juga kinclong, kalau bajunya basah karena keringat panasnya pabrik dia akan ganti baju, edannya dia ganti baju di balik pintu lemari tapi pintu nggak ditutup, kadang2 keliatan lah dari luar, ya ampyuuun babeeeh. Beberapa hari yang lalu dia bolak/ik nyamperin aku mengeluhkan handuk lap tangan di toilet supaya diganti tiap hari, instruksi sudah dijalankan tapi dia masih nyamperin aku, oooh ternyata warna handuknya udah kumel jadi nggak kelihatan udah diganti. Akhirnya kami ganti handuk baru, dia tetap nyamperin aku, minta handuk yang warnanya putih (yang sebelumnya bermotif kartun), tapi tuh handuk nggak ada di Karawang jadi harus nunggu weekend supaya bisa belanja ke Jakarta. Kata Sacho ‘タオル直ってこないよ(handuknya nggk berubah2 tuh)’, aku bilang ‘tolong sabar sampai mgg depan ya, harus beli ke Jkt’. Senin pagi dia nyamperin lagi, dalam hatiku ‘nah loh.. ape lagi nih?’, sambil senyum2 dia bilang ’白くなったよ(udah jadi putih)’, aku:’なにが?’, sacho:’タオル’, kami pun tertawa..hahaha.





